Islam dan Harapan

Seiring sejalan dengan harapan merupakan tunjangan bagi rakyat untuk memiliki islam secara urtuh. Dengan berpegang teguh akan norma dan kecintaan kepada islam akan membawa kebahagian yang melulu akan keselarasan kehidupan dunia yang kian terasa mendapat teguran sang Pencipta. Telah banyak langkah manusia yang memilih jalan dengan akal dan hak asasi manusia tetapi tak kunjung dating harapan besar bagi bumi terasa damai dan indah.

Langkah keras dan tak penuh kesabaran embuat hasil begitu tidak berarti, mungkin ini merupakan langkah yang salah dan hanya memberikan rasa tak nyaman. Dalam hal ini terasa begitu nyata langkah tak berarti tidak memiliki arti. Cobalah menengok masa masa keemasan itu datang semua mendasar kepada pembangunan akhlak bukan bersikap tak relevan dan tidak bertanggung jawab. Kembalilah kepasda Allah SWT, Dia akan selalu tetap Maha Kuasa dalam kebijakan dan kebaikan dengan cara-Nya tersendiri. Sadarlah bahwa bangunan yang indah itu berasal dari perjuangan tauladan Rasullulah SAW, yang mengedapankan akhlak bagi pembagungan kemenangan yang mendalam dan begitu memiliki rasa hormat yang tinggi.

Berawal dari rasa takut kepada Allah SWT, lalu ibumu lalu ayahmu dan jagalah mulutmu pertanda menghormati dan menghargai menyentuh jiwa yang paling dalam dan selalu terpendam dalam kehidupan manusia hingga akhir hayat. Lalu disertai dengan Shalat maka waktu yang terbagi adalah menghormati Tuhan dan yang sebelumnya yakni keluarga. Lalu zakat agar juga menambah rasa hormat bagi yang lain sehingga tercipta keselarasan antara kesemuanya baik itu tetangga maupun orang lain.

Lalu jika kita memasuki bulan Ramadhan setiap islam berkewajiban menjalan puasa hingga tercipta penahanan hawa nafsu hingga manusia itu tidak terpecah belah. Dan membawa kesadaran akan manfaat dan kegunaan hasil jerih payah menjalani puasa lalu hiruplah udara alam dan rasakan aromanya apakah kamu merasakan amarah dalam jiwa? Tentu tidak dikarenakan manusia yang menjalankan puasa menekan hawa nafsu sesuai dengan kemampuannya dan jika kembali bulan Ramadhan yang akan datang diharapkan lebih baik lagi dari sebelumnya agar lebih mendekatkan arah harapan setiap manusia yakni kedamaian yang menyeluruh bagi kehidupan beragama dan bahkan dunia.

Lalu arah Baitullah diarahkan agar setiap islam menemukan harapan baru akan sebuah sejarah pembangunannya dengan meneladani Guru Besar bagi semua penganut agama islam Yaitu Rasulullah SAW, agar kalian tidak tersesat dan hanya menekankan ego sendiri. Bukti telah ada dan kita rasakan hingga masa ini, maka untuk dapat meng-emas- kan nama islam kembali adalah kembali kepada Allah SAW dan RasulNya. Dengan Alqur’an dan Al Hadits maka Islam dan Harapan kedamaian tercipta dengan kesabaran manusia penjalan as-sunnah.

Masa Depan Belum Terlihat

Memaknai ramadhan dengan harapan menuai hasil yang lebih baik di masa depan. Setiap ramadhan pasti umat islam menjalankan kewajibannya untuk berpuasa. Tidak pandang usia dan umur untuk siapa saja untuk menjalankannya. Dan yang tergolong wajib menjalankan ini adalah setiap manusia yang akil baligh sampai yang tua.
Konsekuensi ini dapat berlaku pada umat islam, akan tetapi untuk yang beriman tiada batas waktu baginya karena dasar ibadah terterapkan dalam al-hadits mengikuti petuah orang yang sangat mulia.

Dalam sabdanya Rasululloh S.A.W mengatakan :

    “tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai ke liang lahat”

Dan darisinilah orang-orang yang beriman megikuti jejak rasulnya. Jika terdapat orang-orang yang mempunyai kualitas dan budi pekerti yang mengarah kepada kemulian hanya dapat ditemui di dalam diri orang yang beriman. Yang mau menerapkan ilmu hanya orang yang beriman, sedang iman itu mempunyai nilai atau syarat tersendiri.

Untuk dapat menuai ilmu pokok dasarnya adalah iman dan sabar. Sedikit demi sedikit ia harus ditingkatkan untuk sampai kepada apa yang disebut sempurna istilah mimpinya ialah “Perfectionis”. Menuju kesempurnaan itu tidak dapat langsung jadi sempurna, awalnya ia harus menjaga hati dari kawan maupun lawan. Menjalin silaturahmi salah satu sikap menjaga hati kawan, tidak menganggap lawan itu seperti musuh yang harus dijauhkan dan ditakuti adalah salah satu sikap menjaga hati lawan.

Agar hati tidak dirasuki oleh hal-hal yang mengganggu haruslah ada yang namanya keseimbangan. Keseimbangan dapat terbentuk dari rasa percaya bahwa gangguan dapat diselesaikan dengan cara yang disesuaikan dari sifat gangguan tersebut. Keseimbangan antara manusia dengan manusia lainnya tidak terlepas dari rasa saling hormat dan menghormati. Dan mengadakan musyawarah untuk merumuskan mufakat.

Siapapun dan bagaimanapun kondisi sesuatu yang sulit dapat diselesaikan dengan cara musyarawah yang menginginkan hasil yang sama-sama tidak dirugikan, menempatkan hati nurani untuk menjaga hati-hati yang memerlukan penyelesaian yang tidak dapat diselesaikan secara sepihak.

Jalan terbaik adalah membangun kembali suatu bangunan dengan kemampuan yang ada. Bermusyawarah dengan orang-orang yang ingin membangun kebaikan agar mendapat pondasi cakar ayam terkuat sepanjang masa, karena percuma jika tidak ada keinginan dan kebaikan itu sebab versus dari baik adalah buruk sedang buruk dekat dengan hancur.

    Untuk penghuni ramadhan perkembangkan akhlak adalah awal menuju masa depan.